ISBN : 978-979-1277-52-5
Judul buku : Harmoni dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi
dan Keadilan Gender)
Penulis : Drs. Moh. Roqib, M.Ag.
Pengantar : Ahmad Tohari
Penulis : Drs. Moh. Roqib, M.Ag.
Pengantar : Ahmad Tohari
Editor :Abdul
Wachid B. S.
Penerbit : STAIN Purwokerto & Pustaka Pelajar Yogyakarta
Cetakan : 1-Yogyakarta, STAIN Purwokerto 2007
Tebal : xv + 258 halaman
Penerbit : STAIN Purwokerto & Pustaka Pelajar Yogyakarta
Cetakan : 1-Yogyakarta, STAIN Purwokerto 2007
Tebal : xv + 258 halaman
Harmoni dalam Buadaya
jawa
Di dalam buku Harmoni
budaya jawa yang harus kita pahami adalah makna harmoni dalam keluarga dalam
bentuk budaya jawa. Yang mana penulis buku ini menulis dengan di dasari oleh
perasaan “kangen” terhadap keharmonisan. Di dalam buku ini juga terdapat
perantauan pemikiran tentang pendidikan yang mana akan mencerminkan gagasan-gagasan
tentang upaya pembebasan nilai-nilai kemanusiaan dari berbagai hal yang
menodainya seperti halnya kemusyrikan, dan kekufuran. Budaya jawa dijadikan sebagai fokus kajian,
selain karena menjadi background kelahiran dan lingkungan sehari-hari, juga
karena budaya ini masih kurang dipahami oleh masyarakatnya sendiri.
Pertimbangan lain adalah untuk sosialisasi tentang budaya jawa agar menjadi
refrensi dalam kehidupan disaat banyak individu gandrung/Bahasa anak muda nya
sekarang Galau.
Sebagian dari mereka menganggap, kalau
berbicara tidak keinggris-inggrisan belum bisa dibilang intelek, terpelajar
atau maju. Jadi, keinggris-inggrisan itulah yang dijadikan ukuran
kemajuan.Bahasa menunjukkan bangsa. Karenanya,
Identitas lokal harus dijaga dan di kembangkan sambil merumuskan budaya baru.
Dan kelebihan dari buku ini mengandung gagasan-gagasan yang sangat menarik
tentang harmoni dalam budaya jawa.
Di dalam budaya
jawa juga terdapat studi budaya dalam
karya Fiksi yang mana sisi pentingnya terkait dengan pendidikan, yang di
harapkan dalam studi ini itu untuk memperoleh pemahaman tentang formulasi nilai
budaya jawa, dan juga bagaimana masyarakat jawa mengedepankan harmoni dalam
kehidupannya. Yang kedua untuk mendapatkan gambaran tentang kerangka dasar pendidikan
terkait dengan harmoni.
Tidak
hanya harmoni saja Harmonitas sosial juga merupakan harapan semua orang,
termasuk orang jawa. Dalam pepatah jawa sering disebut “Rukun Agawe
Santoso”, bahwa kerukunan antar sesama akan membawa kesejahteraan
hidup. Keharmonisan sosial menjadi harapan setiap individu. Semua agama
mengajarkan agar pemeluknya hidup damai dan harmonis, baik secara internal
maupun eksternal.
Budaya jawa, dalam hal ini masyarakat jawa merupakan orang-orang yang
bertempat tinggal, bergaul, dan berkembang dipulau jawa yang kemudian
mengembangkan tradisi dan kebudayaan yang khas dan berkarakteristik jawa. Spirit kebudayaan selalu menghadirkan ruang kreativitas
untuk serasi, seimbang, dan seharmoni. Latar kesejarahan di Jawa mengabarkan
bahwa spirit budaya menjadi kekuatan ampuh mempersatukan heterogenitas budaya
Jawa yang seringkali terpencar. Spirit itu tercermin, menurut Bung Karno, dalam
budaya gotong royong yang menciptakan ruang kekerabatan dan keharmonisan antar
warga. Dengan gotong royong inilah masyarakat memahat jejak artefak sejarah
keagungan Jawa yang nyentrik dan penuh nuansa makna. Tak salah kemudian kalau
Bung Karno menjadikan gotong royong sebagai inti dan dasar utama terwujudnya
demokrasi di Indonesia.
Buku “Harmoni dalam Budaya
Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)” berusaha menghadirkan simpul-simpul
strategis dalam budaya Jawa yang mencipta ruang gerak harmoni bagi warga.
Simpul-simpul ini tercermin dalam ritus keseharian yang menjelma menjadi
kesadaran magis begitu kuat dalam jejak kebudayaan dan peradaban Jawa sepanjang
sejarahnya. Bahkan, sampai sekarang, ritus ini menjadi sombol “pertemuan agung
(great meeting)” budaya Jawa: sebuah pertemuan yang sukses mempererat jiwa
warga ditengah krisis identitas. Krisis identitas yang terus menggelayut,
menghayutkan, dapat dibendung dengan kesadaran magis secara halus, seksama, dan
penuh nuansa. Simpul inilah, yang oleh penulis, dikatakan sebagai narasi besar
dalam latar panjang sejarah budaya Nusantara.
Salah simpul yang terus
disentuh setiap saat adalah bahasa Jawa. Dalam falsafah Jawa, ajining diri soko
lathi, berarti harga diri seseorang diantaranya tergantung pada mulut, ucapan,
dan bahasanya. Kata-kata yang fasih, manis, dan empan papan (tahu situasi dan
kondisi) akan menyenangkan hati. Sedangkan perkataan yang kotor, jorok, kasar,
dan rusak akan menyakitkan hati orang lain. Sumber malapetaka seseorang
kebanyakan dari lidah yang tidak terkendali. Untuk itu, dalam bahasa Jawa
dikenal unggah-ungguh, sopan santun dalam berbahasa. Kalau dengan orang lebih
tua, maka unggah-ungguh nya menggunakan kromo inggil. Kromo inggil biasa
digunakan dilingkungan Kraton Ngayogyokarto dan Kasultanan Surokarto. Sementara
bahasa dengan sesama menggunakan ngoko: sebuah dialek kerakyatan yang penuh
keakraban dan keharmonisan.
Simpul berikutnya
tercermin dalam ritus orang keramat, roh, dan selametan. Ritus-ritus ini adalah
warisan dasar budaya Jawa yang terus mengakar, walaupun sekarang ritus ini
telah disisi dengan dimensi keagamaan yang sangat kental. Thoh demikian,
ritus-ritus keramat tetap menjadi “agama Jawa” yang mampu mengakomodasi spirit
Hindu India dengan spirit Islam yang kemudian diakulturasikan dengan budaya
Jawa. Wujud akulturasi inilah yang tetap menjaga ritme keseimbangan harmonitas
social yang terpanjang dalam kekuatan budaya Jawa. Dalam ritus orang keramat,
roh, dan selametan, budaya Jawa mengajarkan kita ihwal sebuah pertautan ruhani
yang mendalam dengan para pendahulu. Harmoni social bukan sekedar tercipta
dengan ruang gerak fisikal, tetapi juga melalui jalan metafisik-spiritual yang
mengelorakan nurani dalam satu kesatuan tunggal.
Dalam mengikat
kebersamaan, simpul budaya Jawa tercermin dalam nyadran. Tradisi nyadran menjadi
mudik spiritual dan kemanusiaan yang menggerakkan warga dalam kebersamaan yang
kukuh. Dalam kebersamaan termaktub falsafah mangan ora mangan kumpul, makan
atau tidak makan, yang penting tetap bersama. Karena kuat kebersamaannya, maka
wonten sekedek dipundum sekedek, wonten katah inggih dipundum katah, bila ada
(rizki) sedikit, akan dibagi sedikit, tetapi jika ada banyak, maka akan dibagi
banyak pula. Dalam kebersamaan, dibutuhkan kesabaran yang berlipat ganda.
Karena sabar duwur wekasane, kesabaran akan menuju ke ketinggian martabat.
Sementara dalam penciptaan
kohesi social yang utuh, simpul falsafah budaya Jawa mengabarkan bahwa dalam
gotong royong harus dikedepankan sifat sepo ing pamrih, rame ing game. Artinya,
dalam kerja kebersamaan jangan sampai tercipta penyakit ingin dipuji,
dibangga-banggakan, dan disanjung-sanjung. Bukan demikian. Tetapi harus sepi
ing pamrih, tidak menghendaki pujian dan sanjungan, tetapi harus rame ing game,
bersemangat dalam kerja dan kreativitas. Dengan kesabaran dan ketulusan, maka
spirit rame ing game akan menjadi kekuatan sangat dahsyat mengobarkan jiwa-jiwa
pemberani yang nantinya menjadi sopir kebudayaan dan peradaban bangsa.
Simpul-simpul tersebut
dalam budaya Jawa dimanifestasikan secara arif dengan spirit ajaran agama
(Islam) yang kosmopolitan. Jadilah sebuah simpul besar yang memancarkan cahaya
pencerahan di segala penjuru pelosok Jawa dan Nusantara. Di titik inilah,
budaya Jawa akan selalu menjadi rujukan utama dalam mencipta harmoni social
dalam hidup berbangsa dan bernegara. Buku ini akan memperkaya khazanah
kebudayaan Jawa, terlebih penulis juga menambahkan dengan spirit edukasi dan
kesetaraan gender yang sedang menggelinding dalam penciptaan kemajuan peradaban
Nusantrara. Setapak demi setapak, harmoni social dalam budaya Jawa harus terus
ditegakkan untuk menyangga struktur tubuh Nusantara yang sedang dibalut
berbagai penyakit social yang sedang berkecamuk.
KELEBIHAN :
Kelebihan di dalam buku ini sangat lah banyak mungkin hanya sedikit yang
perlu kita bahas pada resensi kali ini yang mana, Buku ini berawal dari hasil penelitian pada tahun 2006
yang kemudian disistematisasi kembali dengan beberapa tambahan. Sisi bidik
pembahasannya adalah harmoni dalam budaya Jawa. Budaya Jawa dijadikan sebagai
fokus kajian, selain karena menjadi background kelahiran dan lingkungan
sehari-hari penulis, juga karena budaya ini masih kurang dipahami oleh
masyarakatnya sendiri. Pertimbangan lain adalah untuk sosialisasi budaya Jawa
agar menjadi referensi dalam kehidupan di saat banyak individu gandrung pada
budaya Barat dan idiom-idiomnya. Sebagian orang menganggap kalau berbicara
tidak keinggris-inggrisan itu belum intelek, terpelajar dan maju. Jadi
keinggris-inggrisan itu dijadikan sebagai standar kemajuan. Bahasa menunjukkan
bangsa. Identitas lokal harus dijaga dan dikembangkan sambil merumuskan budaya
baru yang lebih baik.
Untuk
mengenai kekuragan dalam buku ini dalam bahasa penulisan mungkin untuk orang
awam atau seperti masyarakat yang kurang mengetahui tentang betapa penting nya
menjaga keharmonisan dalam keluarga dan juga dalam masyarakat jawa. untuk cover
tidak menarik perhatian pembaca sehingga ketika melihat cassingnya saja sudah
malas apalagi membacanya. Yang kedua perlunya contoh gambar supaya msyarakat
bisa mengerti tentang kebudayaan jawa.
REKOMENDASI :
Untuk rekomendasi yang harus di paparkan
terhadap masyarakat jawa adalah Harmoni secara kreatif secara riil berada pada
pluralitas manusia yang bergerak dinamis sesuai dengan daya kemampuan dan
persepsinya, bagaimana masyarakat menjalankan nya. tetapi tetap menunjukkan
irama yang selaras, serasi, indah, dan damai.Perbedaan pendapat, aspirasi, dan
keragaman dalam strategi dan pola hidup merupakan hiasan indah kehidupan yang
tetap harus dibingkai dalam keharmonisan. Buku ini hadir untuk mewujudkan
cita-cita itu, bagaimana keharmonisan hidup bisa diraih dengan dinamika ataupun
kreatifnya yang tinggi, sehingga
ketenteraman dan kemajuan hidup bisa diraih bersama-sama dengan segala potensi
heterogenitas budaya yang ada. dalam misi Islam, rahmatan lill’alamin
(rahmat/kedamaian bagi seluruh alam) meniscayakan adanya korelasi yang harmonis
dan kreatif antara Islam dan budaya setempat. Syukron trims.