Minggu, 03 Juni 2012

Harmoni dalam Buadaya jawa


ISBN              : 978-979-1277-52-5
Judul buku    : Harmoni dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)
Penulis            : Drs. Moh. Roqib, M.Ag.
Pengantar      : Ahmad Tohari
Editor             :Abdul Wachid B. S.
Penerbit          : STAIN Purwokerto & Pustaka Pelajar Yogyakarta
Cetakan          : 1-Yogyakarta, STAIN Purwokerto 2007
Tebal              : xv + 258 halaman
Harmoni dalam Buadaya jawa
Di dalam buku Harmoni budaya jawa yang harus kita pahami adalah makna harmoni dalam keluarga dalam bentuk budaya jawa. Yang mana penulis buku ini menulis dengan di dasari oleh perasaan “kangen” terhadap keharmonisan. Di dalam buku ini juga terdapat perantauan pemikiran tentang pendidikan yang mana akan mencerminkan gagasan-gagasan tentang upaya pembebasan nilai-nilai kemanusiaan dari berbagai hal yang menodainya seperti halnya kemusyrikan, dan kekufuran.  Budaya jawa dijadikan sebagai fokus kajian, selain karena menjadi background kelahiran dan lingkungan sehari-hari, juga karena budaya ini masih kurang dipahami oleh masyarakatnya sendiri. Pertimbangan lain adalah untuk sosialisasi tentang budaya jawa agar menjadi refrensi dalam kehidupan disaat banyak individu gandrung/Bahasa anak muda nya sekarang Galau.
Sebagian dari mereka menganggap, kalau berbicara tidak keinggris-inggrisan belum bisa dibilang intelek, terpelajar atau maju. Jadi, keinggris-inggrisan itulah yang dijadikan ukuran kemajuan.Bahasa menunjukkan bangsa. Karenanya, Identitas lokal harus dijaga dan di kembangkan sambil merumuskan budaya baru. Dan kelebihan dari buku ini mengandung gagasan-gagasan yang sangat menarik tentang harmoni dalam budaya jawa.
Di dalam budaya jawa juga terdapat studi  budaya dalam karya Fiksi yang mana sisi pentingnya terkait dengan pendidikan, yang di harapkan dalam studi ini itu untuk memperoleh pemahaman tentang formulasi nilai budaya jawa, dan juga bagaimana masyarakat jawa mengedepankan harmoni dalam kehidupannya. Yang kedua untuk mendapatkan gambaran tentang kerangka dasar pendidikan terkait dengan harmoni.
Tidak hanya harmoni saja Harmonitas sosial juga merupakan harapan semua orang, termasuk orang jawa. Dalam pepatah jawa sering disebut “Rukun Agawe Santoso”, bahwa kerukunan antar sesama akan membawa kesejahteraan hidup. Keharmonisan sosial menjadi harapan setiap individu. Semua agama mengajarkan agar pemeluknya hidup damai dan harmonis, baik secara internal maupun eksternal.
Budaya jawa, dalam hal ini masyarakat jawa merupakan orang-orang yang bertempat tinggal, bergaul, dan berkembang dipulau jawa yang kemudian mengembangkan tradisi dan kebudayaan yang khas dan berkarakteristik jawa. Spirit kebudayaan selalu menghadirkan ruang kreativitas untuk serasi, seimbang, dan seharmoni. Latar kesejarahan di Jawa mengabarkan bahwa spirit budaya menjadi kekuatan ampuh mempersatukan heterogenitas budaya Jawa yang seringkali terpencar. Spirit itu tercermin, menurut Bung Karno, dalam budaya gotong royong yang menciptakan ruang kekerabatan dan keharmonisan antar warga. Dengan gotong royong inilah masyarakat memahat jejak artefak sejarah keagungan Jawa yang nyentrik dan penuh nuansa makna. Tak salah kemudian kalau Bung Karno menjadikan gotong royong sebagai inti dan dasar utama terwujudnya demokrasi di Indonesia.
Buku “Harmoni dalam Budaya Jawa (Dimensi Edukasi dan Keadilan Gender)” berusaha menghadirkan simpul-simpul strategis dalam budaya Jawa yang mencipta ruang gerak harmoni bagi warga. Simpul-simpul ini tercermin dalam ritus keseharian yang menjelma menjadi kesadaran magis begitu kuat dalam jejak kebudayaan dan peradaban Jawa sepanjang sejarahnya. Bahkan, sampai sekarang, ritus ini menjadi sombol “pertemuan agung (great meeting)” budaya Jawa: sebuah pertemuan yang sukses mempererat jiwa warga ditengah krisis identitas. Krisis identitas yang terus menggelayut, menghayutkan, dapat dibendung dengan kesadaran magis secara halus, seksama, dan penuh nuansa. Simpul inilah, yang oleh penulis, dikatakan sebagai narasi besar dalam latar panjang sejarah budaya Nusantara.
Salah simpul yang terus disentuh setiap saat adalah bahasa Jawa. Dalam falsafah Jawa, ajining diri soko lathi, berarti harga diri seseorang diantaranya tergantung pada mulut, ucapan, dan bahasanya. Kata-kata yang fasih, manis, dan empan papan (tahu situasi dan kondisi) akan menyenangkan hati. Sedangkan perkataan yang kotor, jorok, kasar, dan rusak akan menyakitkan hati orang lain. Sumber malapetaka seseorang kebanyakan dari lidah yang tidak terkendali. Untuk itu, dalam bahasa Jawa dikenal unggah-ungguh, sopan santun dalam berbahasa. Kalau dengan orang lebih tua, maka unggah-ungguh nya menggunakan kromo inggil. Kromo inggil biasa digunakan dilingkungan Kraton Ngayogyokarto dan Kasultanan Surokarto. Sementara bahasa dengan sesama menggunakan ngoko: sebuah dialek kerakyatan yang penuh keakraban dan keharmonisan.
Simpul berikutnya tercermin dalam ritus orang keramat, roh, dan selametan. Ritus-ritus ini adalah warisan dasar budaya Jawa yang terus mengakar, walaupun sekarang ritus ini telah disisi dengan dimensi keagamaan yang sangat kental. Thoh demikian, ritus-ritus keramat tetap menjadi “agama Jawa” yang mampu mengakomodasi spirit Hindu India dengan spirit Islam yang kemudian diakulturasikan dengan budaya Jawa. Wujud akulturasi inilah yang tetap menjaga ritme keseimbangan harmonitas social yang terpanjang dalam kekuatan budaya Jawa. Dalam ritus orang keramat, roh, dan selametan, budaya Jawa mengajarkan kita ihwal sebuah pertautan ruhani yang mendalam dengan para pendahulu. Harmoni social bukan sekedar tercipta dengan ruang gerak fisikal, tetapi juga melalui jalan metafisik-spiritual yang mengelorakan nurani dalam satu kesatuan tunggal.
Dalam mengikat kebersamaan, simpul budaya Jawa tercermin dalam nyadran. Tradisi nyadran menjadi mudik spiritual dan kemanusiaan yang menggerakkan warga dalam kebersamaan yang kukuh. Dalam kebersamaan termaktub falsafah mangan ora mangan kumpul, makan atau tidak makan, yang penting tetap bersama. Karena kuat kebersamaannya, maka wonten sekedek dipundum sekedek, wonten katah inggih dipundum katah, bila ada (rizki) sedikit, akan dibagi sedikit, tetapi jika ada banyak, maka akan dibagi banyak pula. Dalam kebersamaan, dibutuhkan kesabaran yang berlipat ganda. Karena sabar duwur wekasane, kesabaran akan menuju ke ketinggian martabat.
Sementara dalam penciptaan kohesi social yang utuh, simpul falsafah budaya Jawa mengabarkan bahwa dalam gotong royong harus dikedepankan sifat sepo ing pamrih, rame ing game. Artinya, dalam kerja kebersamaan jangan sampai tercipta penyakit ingin dipuji, dibangga-banggakan, dan disanjung-sanjung. Bukan demikian. Tetapi harus sepi ing pamrih, tidak menghendaki pujian dan sanjungan, tetapi harus rame ing game, bersemangat dalam kerja dan kreativitas. Dengan kesabaran dan ketulusan, maka spirit rame ing game akan menjadi kekuatan sangat dahsyat mengobarkan jiwa-jiwa pemberani yang nantinya menjadi sopir kebudayaan dan peradaban bangsa.
Simpul-simpul tersebut dalam budaya Jawa dimanifestasikan secara arif dengan spirit ajaran agama (Islam) yang kosmopolitan. Jadilah sebuah simpul besar yang memancarkan cahaya pencerahan di segala penjuru pelosok Jawa dan Nusantara. Di titik inilah, budaya Jawa akan selalu menjadi rujukan utama dalam mencipta harmoni social dalam hidup berbangsa dan bernegara. Buku ini akan memperkaya khazanah kebudayaan Jawa, terlebih penulis juga menambahkan dengan spirit edukasi dan kesetaraan gender yang sedang menggelinding dalam penciptaan kemajuan peradaban Nusantrara. Setapak demi setapak, harmoni social dalam budaya Jawa harus terus ditegakkan untuk menyangga struktur tubuh Nusantara yang sedang dibalut berbagai penyakit social yang sedang berkecamuk.
KELEBIHAN :
Kelebihan di dalam buku ini sangat lah banyak mungkin hanya sedikit yang perlu kita bahas pada resensi kali ini yang mana, Buku ini berawal dari hasil penelitian pada tahun 2006 yang kemudian disistematisasi kembali dengan beberapa tambahan. Sisi bidik pembahasannya adalah harmoni dalam budaya Jawa. Budaya Jawa dijadikan sebagai fokus kajian, selain karena menjadi background kelahiran dan lingkungan sehari-hari penulis, juga karena budaya ini masih kurang dipahami oleh masyarakatnya sendiri. Pertimbangan lain adalah untuk sosialisasi budaya Jawa agar menjadi referensi dalam kehidupan di saat banyak individu gandrung pada budaya Barat dan idiom-idiomnya. Sebagian orang menganggap kalau berbicara tidak keinggris-inggrisan itu belum intelek, terpelajar dan maju. Jadi keinggris-inggrisan itu dijadikan sebagai standar kemajuan. Bahasa menunjukkan bangsa. Identitas lokal harus dijaga dan dikembangkan sambil merumuskan budaya baru yang lebih baik.



KEKURANGAN :
Untuk mengenai kekuragan dalam buku ini dalam bahasa penulisan mungkin untuk orang awam atau seperti masyarakat yang kurang mengetahui tentang betapa penting nya menjaga keharmonisan dalam keluarga dan juga dalam masyarakat jawa. untuk cover tidak menarik perhatian pembaca sehingga ketika melihat cassingnya saja sudah malas apalagi membacanya. Yang kedua perlunya contoh gambar supaya msyarakat bisa mengerti tentang kebudayaan jawa.


REKOMENDASI :
Untuk rekomendasi yang harus di paparkan terhadap masyarakat jawa adalah Harmoni secara kreatif secara riil berada pada pluralitas manusia yang bergerak dinamis sesuai dengan daya kemampuan dan persepsinya, bagaimana masyarakat menjalankan nya. tetapi tetap menunjukkan irama yang selaras, serasi, indah, dan damai.Perbedaan pendapat, aspirasi, dan keragaman dalam strategi dan pola hidup merupakan hiasan indah kehidupan yang tetap harus dibingkai dalam keharmonisan. Buku ini hadir untuk mewujudkan cita-cita itu, bagaimana keharmonisan hidup bisa diraih dengan dinamika ataupun  kreatifnya yang tinggi, sehingga ketenteraman dan kemajuan hidup bisa diraih bersama-sama dengan segala potensi heterogenitas budaya yang ada. dalam misi Islam, rahmatan lill’alamin (rahmat/kedamaian bagi seluruh alam) meniscayakan adanya korelasi yang harmonis dan kreatif antara Islam dan budaya setempat. Syukron trims.

Rabu, 30 Mei 2012

Pendidikan Neomodernisme


Pendidikan Neomodernisme
(Telaah Pemikiran Fazlur Rahman)
RESENSI
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata kuliah: Karya Tulis Ilmiah
Dosen Pengampu: M. Rikza Chamami, M.S.I









Di susun
         Wahid wahyu pratama (113311039

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2O12



ISBN              : 978-602-97346-6-9
Judul buku    : Pendidikan Neomodernisme (Telaah pemikiran Fazlur Rahman)
Penulis            : M. Rikza Chamami, M.Si.
Pengantar      : Ahmad Tohari
Editor             : Abu Rokhmad
Penerbit          : Walisongo Press Jl. Walisongo Semarang No3-5 Jrakah Ngaliyan Semarang
Cetakan          : Pertama, Juli 2010
Tebal              : xvi + 224 halaman 

Pendidikan Neomodernisme
(Telaah pemikiran Fazlur Rahman)
Di dalam buku Pendidikan Neomodernisme berisikan tentang Gerakan pembaharuan Dalam Islam yang merumuskan relevansi islam dengan perkembangan sejarah yang melingkupinya. Fazlur rahman menyebutkan sejarah pembaharuan islam itu di bagi ke dalam empat tipologi gerakan : Gerakan pertama yaitu: revivalisme pra modernis, gerakan modernisme, gerakan neorevivalisme dan juga gerakan neomodrnisme. Tema intelektualisme dan pendidikan islam dalam pandangan neomodernisme Fazlur rahman, di situ di kaji dalam bukunya saudara bpk M. Rikza Chamami. Yang mana pengantar menyampaikan pemikiran tentang hal tesebut.
Di dalam neomodernisme pengembangan agama islam dapat di lakukan dengan berbagai cara, seperti hal budaya, seni, ekonomi, maupun pendidikan . namun dalam hal pendidikan lah adalah salah satu pengembangan yang paling efektif dan menjadi sebuah keniscayaan sepanjang sejarah. Neomodernisme juga memberikan proses keilmuan dalam sumber al-Qur’an, karena dalam islam banyak di gariskan dalam al-qur’an, di karenakan al-Qur’an yang masuk dalam kategori perennial knowledge banyak memberian pola abstraksi tentang pola pendidikan islam.  
Fazlur rahman memfokuskan pendidikan islam menjadi satu pemikiran, peta pemikiran fazlur rahman didasarkan pada studi tentang pembaharuan islam yang di mulai dari masa pramodern, modern, hingga neomodern. Kajian yang di bahas oleh fazlur rahman adalah gagasan tentang Neomodernisme dalam ranah pendidikan islam.
Fazlur rahman Juga ikut berpartisipasi dalam menyelesaikan problem pendidikan dalam islam. Dengan solusi memajukan pendidikan, islam akan tampil dengan wajah cantik dan kaya khazanah intelektual. Pada prinsipnya rahman mengagumi dan menghormati tradisi intelektual sebagaimana diwariskan oleh ulama.prasyaratnya adalah bahwa pendidikan tidak dibebani oleh urusan-urusan dogma dan kekahawatiran tentang perubahan yang membayangi. Tujuan utamanya adalah ingin menunjukkan bahwa beberapa bagian dalam sejarah disiplin ilmu hokum dan filsafat politik kehilangan hubungan dengan etika Al-Qur’an.
Fazlur Rahman mencoba mendialogkan antara sesuatu yang lama dengan baru. Neomodernisme yang coba dikembangkan Fazlur Rahman pada hakikatnya bertujuan untuk menjembatani elemen penting, yaitu tradisi dan modernisasi yang selama ini dipertentangkan oleh cendikiawan muslim. Sesuai apa yang telah dijelaskan tentang neomodernisme adalah mencoba menjembatani tradisi dan modernisasi, tradisi dan modernisasi seakan tidak pernah menjumpai titik temu. Karenanya, hal yang paling urgen dalam kaidah neomodernisme yaitu menghindarkan pembuangan warisan budaya lamadan menghiasinya dengan pola pembaharuan.
Rancang bangun pendidikan tradisional mempunyai harapan besar akan pelestarian budaya lama, karena warisan masa lalu sangatlah berarti bagi pengembangan di masa yang mendatang. Penddikan tradisional mencoba untuk mengarahkan pada garis transfer knowledge artinya, sebuah proses pendidikan yang difokuskan pada bentuk pemberdayaan sistemik dan belum memberikan keleluasaan pada peserta didik. Segala hal yang menyangkut kebijakan masih menjadi otoritas lambaga dan masih berpegang teguh pada buku pegangan yang dibuat oleh lembaga. Sehingga rangkaian pendidikan tradisional ini tidak akan mampu mendorong siswa untuk aktif.
Rasionalitas yang semula dianggap universal juga dibatalkan. Setelah modernisme, lahir juga dua aliran yang mempunyai tanggapan berbeda yaitu pasca modernisme skeptis dan pasca modernisme altermatif. Dan ini menjadi perdebatan para ahli pada waktu itu terutama pada feel negatif dan ancamannya. Dari situlah kemudian muncul istilah neo-modernisme yang mempunyai subtansi pencerahan “dunia pendidikan” dengan penyesuaian mas yang sedang berkembang. Metode suatu gerakan ganda Fazlur Rahman dapat diterapkan untuk memberi alternatif solusi atas problem-problem umat, termasuk problem pendidikan. Penerapan metode ini pada problem pendidikan telah dicontohkan oleh Rahman untuk kasus pendidikan di Pakistan melalui empat langkah sebagai berikut. Langkah pertama adalah identifikasi terhadap pendidikan umat Islam ketika itu. Langkah kedua adalah menemukan problem pendidikan di Pakistan. Langkah ketiga adalah mencari rujukan Al-Qur’an dan Al-Hadist. Identifikasi terhadap pendidikan umat Islam di Pakistan yang dilakukan Fazlur Rahman, waktu itu telah ditemukan suatu problem utama, yaitu probem ideologis.
Pendidikan bagi Fazlur Rahman adalah pokok utama yang harus dikedepankan dalam semua bentuk pembaharuaan Islam. Model pendidikan ini cukup mampu menjembatani ketertinggalan dinamika pemikiran Islam atau Klaim kemandulan budaya piker masyarakat muslim.


“Nothing Biaya” Bukan BERARTI TIDAK KULIAH


“Nothing Biaya” Bukan BERARTI TIDAK KULIAH

Oleh :Wahid wahyu pratama
          Akhir-akhir ini banyak kalangan pelajar SMA/MA yang sedang di landa kebingungan dengan setelah kelulusan mereka harus lanjut atau tidak..? Nah..untuk yang akan lanjut mungkin perlu survei untuk kemana dia akan melanjutkan studinya, begitu juga sebaliknya bagi yang tidak melanjutkan mungkin mereka akan terjun ke dunia kerja. Tahun ajaran baru segera akan segera dimulai, pastinya bagi seorang pelajar yang sudah lulus SMA yang akan melanjutkan ke dalam perguruan tinggi. untuk Memilih Perguruan Tinggi dan Jurusan yang ideal  ataupun yang favorit tidak semudah yang dibayangkan, hal ini terlihat sepele namun memerlukan pemikiran dan pertimbangan yang benar-benar matang.karna Pilihan Perguruan Tinggi dan Jurusan nantinya akan menentukan masa depan kita dihari esok/ yang akan datang Pilihan tersebut nantinya akan mempengaruhi dalam hal keaktifan kita di bangku kuliah, jadi aktivis kah kita atau tidak ketiak kuliah nantinya. Kemungkinan untuk tahun ini negara akan menyelenggarakan SMPTN lagi untuk perguruan tinggi yang berstatus negeri dan inilah kesempatan para pelajar untuk bisa mengikutinya guna Untuk melanjutkan study ke jenjang pendidikan tinggi/perguruan tinggi nantinya, seorang calon mahasiswa/mahasiswi terlebih dahulu harus dapat mengetahui kemampuannya untuk menentukan jenis program pendidikan yang diinginkannya, bidang apa yang diminatinya atau di ambil, dan mencari informasi mengenai perguruan tinggi mana yang akan di ambil. ada beberapa yang yang dapat digunakan sebagai pertimbangan ketika akan memilih suatu perguruan tinggi, antara lain bidang studi, jurusan, biaya, status akreditasinya, fasilitas pendidikan yang tersedia, dan juga serta kualitas dan kuantitas dosen yang dimiliki oleh setiap dosen. Untuk mencari informasi tentang 
          Perkuliahan mungkin kta bisa bertanya kepada orangtua, teman maupun guru. Lebih bagus lagi jika bertanya kepada orang telah terjun langsung ke dunia kerja di bidang yang diminatinya atau yang sudah berpengalaman. Untuk mendapatkan informasi mengenai bidang studi di perguruan tinggi, calon mahasiswa dapat memanfaatkan fasilitas Internet, melalui website-website dari perguruan tinggi yang dituju. Atau dapat juga melakukan pencarian dengan mbah Google dan bertanya melalui mailing list. Salah satu hal yang sangat penting lainnya adalah pertimbangan biaya kuliah. Sebaiknya kta harus terlebih dahulu membicarakan dengan orang yang akan membiayai kuliah, atau telilti keadaan keuangan yang dimiliki bila akan membiayai kuliah sendiri. Nah inilah yang menjadi kendala biasa pada setiap orang. Buatlah rencana pembiayaan untuk melihat jumlah dana yang tersedia selama masa study. Jangan mengandalkan pekerjaan sampingan. Pastikan bahwa dana yang dimiliki cukup untuk membiayai kuliah sampai selesai. Karena banyak mahasiswa sekarang yang kuliah hanya main-main saja tidak menekuni bidang yang mereka ambil. Untuk itu jika sudah di terima dalam sebuah universitas pergunakanlah waktu itu jangan waktu itu terbuang percuma dan kuliah tidak selesai. Sekian.
''MORNING'' meskipun cuman 7 huruf, akan sangat bermakna kalau ad yg mengucpkanya...smile for you dont cry..:)